Mewaspadai Gangguan Setan dalam Perjalanan Ibadah

Mewaspadai Gangguan Setan dalam Perjalanan Ibadah

Daftar/Tanya-Tanya
Bacaan Umroh Sesuai Sunnah
Haji Sesuai Sunnah
Semangat Beribadah yang Harus Dipertahankan

Tanah Suci bukan sekadar tempat untuk bersujud, namun juga medan perjuangan spiritual yang sesungguhnya. Banyak yang mengira bahwa di dekat Ka’bah, bisikan godaan akan sirna sepenuhnya, padahal musuh abadi manusia—iblis dan bala tentaranya—tidak pernah mengambil cuti, bahkan di pusat ketauhidan sekalipun. Mengambil pelajaran berharga dari sejarah penciptaan, kita diingatkan bahwa kakek moyang manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam, pernah tergelincir justru saat berada di tempat yang paling mulia. Memahami dinamika “peperangan” batin ini menjadi sangat krusial bagi setiap tamu Allah, agar setiap putaran Tawaf dan lari-lari kecil di Sa’i tidak tercemari oleh tipu daya halus yang seringkali tidak disadari.

Mewaspadai Gangguan Setan dalam Perjalanan Ibadah

Setan adalah musuh nyata yang tidak akan membiarkan seorang hamba beribadah dengan tenang, bahkan di tanah suci sekalipun. Pelajaran ini diambil dari kisah Nabi Adam ‘Alaihissalam yang pernah berada di surga dengan segala kenikmatan, namun setan berhasil membisikkan was was hingga beliau melakukan kekeliruan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan:

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

“Maka kami berkata, ‘Wahai Adam, sungguh ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, sehingga kamu akan celaka’.” (QS. Thaha[20]: 117)

Sifat lupa dan melakukan kesalahan yang terjadi pada Nabi Adam ‘Alaihissalam menurun kepada anak cucunya, termasuk para jamaah haji dan umroh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَنَسِيَ آدَمُ فَنَسِيَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَخَطِئَ آدَمُ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ

“Maka Adam lupa, sehingga anak cucunya pun menjadi pelupa. Dan Adam melakukan kesalahan, sehingga anak cucunya pun melakukan kesalahan.” (HR. Tirmidzi)

Di tanah suci, setan senantiasa membisikkan tawaran “keabadian” atau kesenangan semu. Ia seringkali membungkus kemaksiatan atau pelanggaran selama ihram seolah-olah sebagai hal yang menyenangkan. Fenomena ini dikenal sebagai talbis Iblis atau tipu daya Iblis. Sebagai contoh, ada jamaah yang merasa berat meninggalkan rokok di tanah suci karena bisikan setan bahwa hal itu memberikan ketenangan, padahal perbuatan tersebut dapat menodai kesucian ibadah dan mengganggu jamaah lain. Sesuatu yang merusak dikesankan sebagai jalan menuju kebahagiaan. Inilah yang harus diwaspadai; jangan sampai satu perbuatan fusuq (kefasikan) menghancurkan pahala haji yang telah dikumpulkan dengan susah payah.

Senjata Melawan Godaan: Adzan dan Dzikir

Jamaah harus senantiasa berhati-hati. Meskipun setan tidak terlihat, ia berada di mana saja manusia berada, bahkan saat kita melakukan takbiratul ihram di depan Ka’bah. Salah satu perisai yang Allah berikan adalah adzan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

“Apabila adzan shalat dikumandangkan, setan akan lari sambil terkentut-kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan tersebut.” (HR. Bukhari)

Namun, kewaspadaan tidak boleh kendur karena setelah adzan selesai, ia akan kembali menggoda kekhusyukan shalat kita. Maka, sangat penting untuk merenungkan hikmah dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah: Nabi Adam ‘Alaihissalam dikeluarkan dari surga yang penuh kenikmatan menuju dunia yang penuh penderitaan hanya karena satu kesalahan. Ini adalah peringatan keras bagi para jamaah agar tidak merasa aman dan pasti masuk surga sementara mereka sengaja melakukan banyak dosa selama di tanah suci.

Adalah sebuah keanehan jika seorang hamba merasa tenang akan masuk surga padahal ia kerap melanggar larangan-larangan ihram atau meremehkan hak-hak sesama muslim, sementara Nabi Adam ‘Alaihissalam diturunkan ke dunia hanya karena satu kekeliruan. Kesadaran ini harus memicu ketakwaan yang lebih tinggi. Setiap manusia di tanah suci yang mengajak kepada keburukan atau menyia-nyiakan waktu ibadah pada hakikatnya adalah perpanjangan tangan setan dari golongan manusia. Oleh karena itu, kita memohon perlindungan total:

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas[114]: 6)

Istiqamah Pasca-Haji dan Umroh

Keberhasilan ibadah haji dan umroh tidak hanya diukur saat jamaah berada di tanah suci, melainkan pada penerapan nilai-nilai manasik tersebut dalam kehidupan sehari-hari di tanah air. Ibadah yang benar-benar membekas akan membuat pelakunya senantiasa berhati-hati dan tidak terbuai oleh angan-angan kosong. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepada setiap jamaah untuk menjaga kemurnian amalnya, melindungi mereka dari tipu daya setan, dan menjadikan setiap langkah di tanah suci sebagai kunci pembuka pintu surga-Nya.

Lihat juga: Panduan Umrah Sesuai Sunnah

Pada akhirnya, ibadah haji dan umroh adalah sebuah madrasah besar tentang kewaspadaan. Perjalanan dari satu manasik ke manasik lainnya seharusnya mengasah sensitivitas hati kita terhadap talbis Iblis yang senantiasa mencari celah dalam setiap ketaatan. Menyadari bahwa kesalahan kecil saja mampu mengubah keadaan, sudah sepatutnya kita memperkuat benteng pertahanan dengan adzan, dzikir, dan permohonan perlindungan yang tulus. Semoga setiap tetes keringat dan air mata di tanah suci tidak menguap sia-sia karena godaan yang remeh, melainkan bertransformasi menjadi ketakwaan kokoh yang terus membimbing kita hingga kembali ke tanah air sebagai hamba yang lebih terjaga.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: