Seruan Haji untuk Seluruh Manusia

Seruan Haji untuk Seluruh Manusia

Menunaikan ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik atau simbol status sosial, melainkan jawaban atas panggilan suci dari Rabbul ‘Alamin yang telah digaungkan sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam. Setiap langkah menuju Baitullah adalah bentuk kepatuhan hamba yang rindu menyambut seruan-Nya. Mari selami bagaimana sejarah dan keagungan panggilan haji ini mengetuk pintu hati kita dalam artikel berikut.

Jamaah dari berbagai penjuru dunia, dengan beragam bahasa dan suku bangsa, telah berkumpul di Makkah Al-Mukarramah. Pusat dari perkumpulan besar ini adalah Masjidil Haram, tempat berdirinya Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam dan anaknya, Nabi Ismail Alaihissalam. Ka’bah bukan sekadar bangunan sejarah, melainkan jantung bumi dan kiblat bagi umat Islam dalam melaksanakan shalat berdasarkan perintah Allah ‘Azza wa Jalla.

Perintah menghadap kiblat ini merupakan ketetapan yang menyatukan arah ibadah seluruh umat muslim di dunia menuju satu titik suci yang sama.

Sejarah Penetapan Kiblat Dan Pembangunan Baitullah

Perintah untuk menjadikan Ka’bah sebagai kiblat salat turun setelah 16 bulan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah dari Makkah ke Madinah. Semenjak saat itu, kaum muslimin melaksanakan salat dengan menghadap ke Baitullah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail Alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai penetapan tempat pembangunan rumah suci tersebut:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud’.” (QS. Al-Hajj[22]: 26)

Perintah Membangun dan Mensucikan Ka’bah

Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan dan mengarahkan Nabi Ibrahim Alaihissalam menuju lokasi tempat berdirinya Ka’bah. Di tempat itulah beliau diperintahkan untuk membangun Baitullah dengan landasan tauhid, tanpa mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun. Nabi Ibrahim Alaihissalam diperintahkan untuk menyucikan rumah tersebut bagi orang-orang yang melaksanakan tawaf serta bagi mereka yang mendirikan shalat melalui gerakan berdiri, rukuk, dan sujud.

Nabi Ibrahim Alaihissalam membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail Alaihissalam tepat di jantung kota Makkah, di dalam area Masjidil Haram. Meskipun sebagian muslim belum memiliki kemampuan finansial untuk sampai kesana secara langsung, kemudahan teknologi saat ini memungkinkan setiap orang menyaksikan Baitullah melalui berbagai media.

Seruan Haji untuk Seluruh Manusia

Setelah pembangunan Baitullah selesai, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk memanggil umat manusia agar melaksanakan ibadah haji. Perintah ini tertuang dalam Al-Qur’an:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj[22]: 27)

Ibadah haji bermula dari seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam tersebut. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Ibrahim Alaihissalam sempat bertanya mengenai cara menyampaikan seruan tersebut kepada seluruh manusia mengingat keterbatasan jangkauan suara beliau. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan bahwa kewajiban Nabi Ibrahim Alaihissalam hanyalah mengumumkan, sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan menyampaikan seruan tersebut ke seluruh penjuru dunia.

Maka, Nabi Ibrahim Alaihissalam pun menyeru manusia untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sejak saat itulah Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan ibadah haji bagi hamba-hamba-Nya yang memiliki kemampuan untuk menempuh perjalanan menuju Baitullah.

Seruan yang ditiupkan Nabi Ibrahim Alaihissalam jutaan tahun lalu terus bergema hingga hari ini, memanggil setiap jiwa yang merindukan ampunan dan keridaan Allah. Keinginan untuk memenuhi undangan Rabbul ‘Alamin tidak hanya menunggu kesiapan harta, tetapi juga niat yang lurus dan kesungguhan hati. Jika rasa rindu itu telah hadir, bulatkan tekad dan langkahkan kaki. Bersama Wipa Tour, wujudkan impian Anda untuk umrah dan haji dengan tenang, nyaman, serta sesuai tuntunan sunnah.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0