Timbulnya semangat ibadah yang luar biasa di Tanah Suci disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya adalah kondisi sekitar yang memicu umat Muslim berpacu di dalam ketaatan. Semangat ini juga muncul karena adanya kesadaran akan singkatnya waktu keberadaan di kota Makkah, sehingga muncul keinginan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beribadah di masjid terbaik di muka bumi, yaitu Masjidil Haram.
Keutamaan shalat di Masjidil Haram sungguh agung. Satu kali shalat di sana lebih baik daripada seratus ribu kali shalat di masjid lain. Keutamaan ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama seribu shalat daripada shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Muslim).
Untuk mencapai nilai 100.000 shalat di selain Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa, dibutuhkan waktu lebih dari 277 tahun (dengan perhitungan satu tahun Hijriah adalah 360 hari). Jika shalat Magrib yang ditunaikan di Masjidil Haram diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka untuk mendapatkan pahala setara itu di tempat lain akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Keberadaan yang singkat di sini memicu umat Muslim untuk beribadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala , Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.
Sebagian kaum Muslimin mungkin merasa iri kepada mereka yang tinggal di kota Makkah karena dapat rutin shalat, beribadah, haji, atau umrah di Masjidil Haram. Iri terhadap pahala yang didapatkan hukumnya boleh saja, asalkan tidak menjurus pada hasad.
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad (ghibtah) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap tempat pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, nasihat utama yang disampaikan adalah mempertahankan semangat tauhid dan ibadah yang telah ditegakkan di Tanah Suci. Selama berada di Makkah, umat Muslim benar-benar beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nasihat kita adalah pertahankan itu. Di sini kita benar-benar bertauhid beribadah kita hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Pertahankan tauhid itu selama di negeri kita sampai akhir hayat.
Ustadz Maududi Abdullah, Lc.

COMMENTS