KETUNDUKAN MUTLAK DAN ESENSI DZIKIR DALAM HAJI

KETUNDUKAN MUTLAK DAN ESENSI DZIKIR DALAM HAJI

Setiap mukmin dituntut untuk tunduk dan patuh secara mutlak terhadap syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekalipun hal tersebut terasa tidak masuk akal atau sulit dipahami oleh logika manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan syariat kepada hamba-hamba-Nya dengan tujuan menguji kepatuhan tanpa harus mempertanyakan tujuan, alasan, maupun jumlah bilangan dalam suatu ibadah. Rentetan amalan manasik haji merupakan bentuk latihan bagi jiwa agar senantiasa berserah diri kepada ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Haji sebagai Sarana Menegakkan Dzikir

Maksud dan tujuan paling mulia dari ibadah haji adalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dzikir merupakan inti dari seluruh ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana shalat diperintahkan untuk mengingat Allah, demikian pula dengan haji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha[20]: 14)

Dalam ibadah haji, setiap perpindahan tempat dan prosesi manasik dipenuhi dengan perintah untuk menyebut nama Allah. Saat jamaah bertolak dari Arafah menuju Muzdalifah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk berdzikir di Masy’aril Haram. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

“Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang sesat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 198)

Perintah Istighfar dan Dzikir Pasca Ibadah

Setelah bertolak dari Arafah, jamaah haji juga diperintahkan untuk senantiasa memohon ampunan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah[2]: 199)

Bahkan, kewajiban berdzikir tidak terhenti meskipun seluruh rangkaian manasik telah selesai dilakukan. Setelah jamaah menyelesaikan ibadah haji, mereka diperintahkan untuk tetap mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan frekuensi yang lebih kuat dibandingkan ingatan mereka kepada nenek moyang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

“Apabila kamu telah menyelesaikan manasik (ibadah haji), maka berdzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, bahkan berdzikirlah lebih dari itu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 200)

Seluruh rangkaian ibadah haji, mulai dari talbiyah, takbir pada hari-hari tasyrik, hingga tawaf dan sai, pada hakikatnya merupakan upaya untuk menghidupkan Dzikrullah di dalam hati dan lisan setiap hamba. Melalui dzikir tersebut, seorang jemaah haji membesarkan dan mengagungkan nama Allah ‘Azza wa Jalla sebagai bentuk syukur atas petunjuk yang telah diberikan-Nya.

Sepuluh hari pertama bulan Zulhijah merupakan hari-hari terbaik di permukaan bumi. Pada waktu yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memperbanyak dzikir. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 203)

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hari-hari tersebut adalah hari-hari tasyrik. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memperbanyak ucapan tahlil (Lailahaillallah), takbir (Allahu Akbar), dan tasbih (Subhanallah). Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teladan dengan mengeraskan suara takbir mereka agar didengar oleh orang lain.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Hurairah dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma keluar menuju pasar hanya untuk bertakbir. Penduduk pasar yang mendengar takbir mereka pun ikut bertakbir bersama-sama, sehingga suasana pasar dipenuhi dengan pengagungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Haji sebagai Madrasah Takwa

Maksud dan tujuan agung lainnya dari ibadah haji adalah untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah haji melatih seorang hamba untuk tunduk pada perintah dan menjauhi larangan-Nya. Perintah untuk beribadah ini sejalan dengan seruan umum Allah kepada seluruh umat manusia:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 21)

Dalam pelaksanaan haji, ketaqwaan dilatih melalui kepatuhan menjalankan manasik dan meninggalkan berbagai hal yang dilarang (makruhat), bahkan hal-hal yang semula mubah namun menjadi haram saat berihram. Kemampuan menahan diri dari segala larangan ini merupakan buah dari ketaqwaan yang sejati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa bekal terbaik bagi jemaah haji bukanlah sekadar harta benda, melainkan ketaqwaan.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)

Ibadah haji menuntut pengorbanan tenaga dan harta yang semuanya bermuara pada satu tujuan, yaitu meraih rida Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui jalan ketaqwaan. Dengan demikian, setiap rangkaian ibadah yang dikerjakan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan meninggalkan segala bentuk maksiat.

Menghidupkan dzikrullah dan menempa ketakwaan di tanah suci adalah puncak kerinduan setiap mukmin. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memanggil, pastikan perjalanan ibadah Anda didampingi oleh pembimbing berpengalaman agar setiap rangkaian manasik bernilai pahala mabrur.

Mari wujudkan niat suci Anda menuju Baitullah bersama Wipa Tour. Dapatkan informasi lengkap mengenai program, jadwal keberangkatan, dan bimbingan manasik haji dengan menghubungi layanan pelanggan Wipa Tour sekarang juga!

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: