Panduan Umrah Sesuai Sunnah – Ustadz Maududi Abdullah Lc. Hafidzahullah
Pada artikel ini, dijelaskan mengenai cara melaksanakan umrah sesuai dengan sunnah-sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika nanti disampaikan tata cara umrah yang dipelajari dari sunnah dan didapati adanya perbedaan, maka ketahuilah bahwa perbedaan itu disebabkan materi ini disampaikan murni sesuai dengan apa yang dipelajari dari para ahli ilmu, melalui buku-buku mereka, dan belajar langsung dari lisan mereka.
Kami sampaikan materi ini sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari. Apabila ditemukan perbedaan dalam praktik, silakan ditanyakan. Pertanyaan mengenai praktik yang berbeda akan dijawab, InsyaAllahu Ta’ala.
Sebelum memulai materi tentang tata cara manasik umrah sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, perlu diketahui bahwa bagi siapa saja yang melakukan perjalanan umrah untuk pertama kalinya, niatkan umrahnya sebagai umrah wajib.
Kewajiban Umrah
Kewajiban umrah sekali seumur hidup bagi yang mampu melakukan perjalanan ke kota Makkah adalah hal yang diketahui oleh hampir seluruh umat Islam yang belajar agama. Kewajiban sekali seumur hidup itu bukan hanya haji, tetapi haji dan umrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ…
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 196).
Ayat tersebut menyebut haji dan umrah. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya haji saja yang wajib sekali seumur hidup apabila ada kemampuan untuk melakukan perjalanan ke sana, namun umrah pun wajib sekali seumur hidup.
Oleh karena itu, bagi Anda yang perjalanannya ke Tanah Suci ini merupakan perjalanan perdana, niatkan dari sini bahwa ini adalah perjalanan umrah wajib.
Umrah Wajib dan Sunnah
Sekiranya nanti Anda berhaji, biasanya jemaah haji Indonesia akan melaksanakan haji tamattu’, yaitu ibadah haji yang didahului oleh umrah (umrah dulu baru haji). Ini adalah mayoritas praktik yang dilaksanakan oleh hampir 98% umat Islam dunia.
Apabila perjalanan umrah ini adalah umrah perdana, maka umrah berikutnya tidak lagi wajib, melainkan sunnah. Yang wajib hanyalah hajinya, karena umrah wajib sudah dilaksanakan sebelumnya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan perjalanan ini menuju Tanah Suci.
Kami selalu memohon doa kepada seluruh jemaah, “Tolong doakan kemudahan untuk kita semua dalam perjalanan menuju kota Makkah untuk melaksanakan ibadah yang sangat langka, ibadah umrah ini.”
Permintaan doa bersama ini didasarkan pada fakta bahwa tidak seorang pun di antara kita yang tahu doa siapa yang dikabulkan Allah ‘Azza wa Jalla. Jika kita semua saling mendoakan, dan doa salah satu dikabulkan, maka itu akan menjadi kemudahan bagi semuanya. Hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui siapa yang paling bertakwa di antara kita.
Orang yang paling bertakwa doanya lebih dekat kepada ijabah (pengabulan) dari Allah Azza wa Jalla. Ini adalah Rahasia Ilahi. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah Azza wa Jalla, dan inilah kehebatan agama Islam.
Tata Cara Pelaksanaan Umrah Sesuai Sunnah Nabi
Pelaksanaan ibadah umrah adalah melaksanakan tiga rukun utama. Tiga rukun ibadah umrah tersebut adalah: Ihram, Tawaf, Sa’i.
1. Ihram
Ihram adalah rukun yang dimulai dengan:
Bagi laki-laki, mengenakan pakaian ihram, yaitu dua lembar pakaian putih, satu untuk bagian atas dan satu untuk bagian bawah, tanpa mengenakan pakaian lainnya.
Memulai masuk dalam ibadah umrah dengan melafazkan niat:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً
“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah.”
Begitu melafazkan niat tersebut dalam kondisi sudah siap berpakaian ihram, maka jemaah telah masuk dalam ibadah ihram.
Pakaian Ihram:
Laki-laki: Mengenakan pakaian ihram khusus (seragam internasional), dua lembar kain putih tanpa jahitan.
Perempuan: Baju yang dipakai sehari-hari sudah bisa digunakan untuk ihram, asalkan menutup aurat.
Ibadah ihram ini berakhir sampai akhir perjalanan umrah, yaitu sampai selesai tawaf, selesai sa’i, dan kemudian potong rambut atau mencukur gundul (tahallul).
2. Tawaf
Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Saat ini, sudah umum dilihat orang-orang yang sedang berputar di sekeliling Ka’bah, itulah ibadah tawaf.
3. Sa’i
Sa’i adalah berjalan antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.
Perhitungannya adalah sebagai berikut:
- Dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali.
- Dari Marwah kembali ke Shafa dihitung dua kali.
Perjalanan Sa’i berakhir ketika telah dilakukan sebanyak tujuh kali (bukan tujuh putaran).
Ketiga ibadah ini—Ihram, Tawaf, dan Sa’i—jika telah dikerjakan, maka ibadah umrah telah selesai dilaksanakan.
Durasi Pelaksanaan Umrah
Total waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan ibadah umrah, dimulai dari berangkat dari Madinah sampai selesai seluruh rangkaian, jika dilaksanakan secara langsung tanpa berhenti (nonstop) adalah sekitar delapan jam.
Rinciannya adalah sebagai berikut:
- Perjalanan dari Madinah menuju Makkah: lebih kurang 5 jam.
- Tawaf dan Sa’i: lebih kurang 3 jam.
Total waktu umrah sesungguhnya hanyalah 8 jam. Namun, waktu perjalanan yang dihabiskan selama berhari-hari (misalnya 9 hari) adalah waktu tambahan untuk menikmati shalat di Masjid Nabawi, menikmati kota Madinah, dan menikmati ibadah-ibadah lainnya di Masjidilharam. Umrah yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu 8 jam saja.
Kami sengaja membuat tiga poin penting ini (tiga rukun) terlebih dahulu agar kita memahami bahwa ibadah umrah hanyalah menjalani dan melaksanakan ketiga rukun tersebut.
Sunnah-Sunnah Ihram
Sebelum ibadah ihram dimulai, terdapat hal-hal yang disebut sunnah-sunnah ihram yang disunnahkan untuk dikerjakan. Meskipun disebut sunnah, sangat dianjurkan untuk melaksanakannya demi mendapatkan ibadah yang maksimal.
Perjalanan yang ditempuh telah menghabiskan biaya sekian juta rupiah, menempuh perjalanan sekian ribu kilometer, dan lelah yang dirasakan sekian lama. Sangat disayangkan jika ibadah tidak dilaksanakan secara maksimal.
Ibadah umrah adalah ibadah yang langka. Meskipun ada yang mampu berumrah setiap tahun, frekuensi sekali setahun tetap dianggap langka jika dibandingkan dengan shalat, infak, atau puasa yang bisa dilakukan lebih sering. Mengingat mayoritas manusia tidak berumrah setiap tahun, bahkan sekali seumur hidup, maka walaupun hal-hal ini disebut sunnah-sunnah ihram, tetap dilaksanakan dan jangan diabaikan.
Sunnah-sunnah ihram yang dianjurkan untuk dilaksanakan adalah:
- Potong kuku.
- Rapikan kumis.
- Cabut atau cukur bulu ketiak. Mencabut bulu ketiak adalah yang terbaik, jika tidak mampu, maka dicukur.
- Cukur bulu kemaluan.
- Mandi.
- Memakai parfum di badan (khusus laki-laki), tidak boleh di pakaian ihram. Dianjurkan menggunakan parfum nonalkohol untuk menghindari perselisihan pendapat (khilaf) mengenai kebolehan parfum beralkohol. Parfum digunakan di badan, dan tidak boleh sekali-kali digunakan pada pakaian ihram.
Pelaksanaan sunah-sunah ihram dilakukan di hotel tempat menginap, misalnya di hotel Madinah. Sunah-sunah ini menampakkan keharusan untuk bersih dan bersiap diri sebelum melaksanakan ibadah umrah. Hal ini karena ibadah umroh adalah:
- Momen untuk menghadap Allah Azza wa Jalla.
- Dilakukan di tempat terbaik di permukaan bumi.
- Tawaf di satu-satunya tempat di permukaan bumi yang diizinkan untuk tawaf, yaitu Ka’bah.
Sebagaimana seseorang yang akan menghadap pemimpin tertinggi negara, ia akan berusaha bersih dan rapi. Demikian pula, Allah Azza wa Jalla lebih berhak bagi kita untuk bersih-bersih ketika menghadap-Nya. Jelas terlihat bahwa semua sunnah-sunnah ihram bertujuan untuk bersih-bersih dan rapi-rapi.
Pakaian Ihram
Pakaian Ihram Laki-laki
Setelah semua sunnah ihram selesai dilakukan, laki-laki mulai memakai pakaian ihram. Pakaian ihram ini terdiri dari dua lembar pakaian putih polos, satu untuk bagian atas dan satu untuk bagian bawah.
1. Pakaian Ihram Bagian Bawah
Cara pemasangan pakaian ihram bagian bawah bebas, yang terpenting adalah aurat tertutup. Kain dapat dililit, dilipat, atau digulung jika terlalu panjang.
Penggunaan Ikat Pinggang: Boleh menggunakan ikat pinggang, termasuk ikat pinggang berjahit, untuk mengikat kain ihram bagian bawah. Tidak ada larangan khusus mengenai ikat pinggang berjahit dalam keadaan ihram.
2. Pakaian Ihram Bagian Atas
Pakaian ihram bagian atas harus menutup kedua bahu (kanan dan kiri). Namun, nanti ketika melaksanakan tawaf, pakaian akan diselempangkan di bawah ketiak (menampakkan bahu kanan) dalam posisi yang disebut idtiba’. Ini akan dipraktikkan kemudian.
Perlu ditekankan, cara memakai pakaian ihram bagian bawah yang disampaikan ini murni berdasarkan pengalaman, bukan tuntunan sunnah yang baku mengenai lipatan kain. Ada dua hal yang harus dihindari ketika berpakaian ihram bagian bawah:
- Aurat mudah terbuka.
- Langkah kaki terhalang.
Oleh karena itu, cara yang diajarkan ini bertujuan untuk mengatasi kedua kendala tersebut, karena pakaian ihram harus benar-benar polos, hanya dua lembar kain tersebut, tanpa pakaian dalam, untuk menghindari hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran berjalan dan menghindari terbukanya aurat.
Pakaian Ihram Perempuan
Pakaian ihram bagi muslimah pada dasarnya memenuhi kriteria busana muslimah yang telah ditetapkan oleh syariat. Kriteria tersebut meliputi tiga hal pokok:
- Menutup seluruh aurat.
- Lapang dan tidak sempit.
- Tidak transparan.
Apabila pakaian yang dikenakan memenuhi tiga kriteria ini, maka sudah sah digunakan untuk berihram. Tiga kriteria ini sama dengan kriteria pakaian yang sah digunakan muslimah saat mendirikan shalat.
Namun, kami menganjurkan para ibu untuk mengenakan seragam WIPA TOUR saat berihram. Hal ini dikarenakan identitas kelompok hanya ada pada pakaian muslimah. Kami, kaum laki-laki, mengenakan pakaian ihram yang seragam secara internasional—dua helai kain putih tanpa jahitan—sehingga kami tidak lagi dapat dikenali sebagai bagian dari grup tertentu. Pakaian ihram laki-laki dikenakan oleh semua orang dari berbagai negara, baik Amerika, Afrika, Eropa, maupun Timur Tengah. Oleh sebab itu, identitas grup kita hanya dapat dikenali melalui seragam yang dikenakan ibu-ibu. Harapannya, hal ini akan mempermudah kita saat ada anggota grup yang terpisah atau tercecer. Anjuran ini bukanlah kewajiban syariat, tetapi sekadar harapan untuk kemaslahatan bersama.
Perlu diperhatikan, saat mengenakan baju ihram, hendaknya kaum muslimah berhati-hati dengan model pakaian yang lengan bajunya mudah tersingkap (tidak menggunakan manset). Lengan adalah bagian dari aurat. Jika lengan baju mudah turun, lengan kita akan terlihat. Oleh karena itu, penggunaan manset sangat penting agar aurat tetap tertutup, bahkan ketika lengan baju bergeser ke bawah.
Pakaian ihram juga harus lapang, karena pakaian yang sempit sama saja tidak memenuhi kriteria busana muslimah karena masih membentuk lekuk tubuh. Demikian pula, pakaian tidak boleh transparan.
Menuju Miqat dan Memulai Ihram
Setelah bersiap, kita berangkat menuju miqat. Miqat adalah tempat yang ditentukan untuk memulai ihram. Dari hotel di Madinah, jarak menuju miqat (tempat miqat yang dituju adalah Bir Ali) adalah sekitar 14 kilometer menjelang Makkah.
Sesampainya di Bir Ali, disunatkan untuk mengerjakan shalat sunah dua rakaat. Setelah shalat sunnah dua rakaat, kita mulai mengucapkan niat ihram saat bergerak menuju Makkah dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً
“Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah, dengan melaksanakan Umroh.”
Bagi muslimah yang Allah takdirkan sedang haid, tetap mengucapkan niat ini dan tetap berihram seperti yang lainnya. Namun tidak melaksanakan shalat.
Disunnatkan pula bagi kita untuk mengucapkan isytirat, yaitu sebuah kalimat pengandaian:
فإِ نْ حَبَسَنِِي حَا بِسٌ فَمَحَلّي حَيْثُ حَبَسْتَنِيْ
“Ya Allah, jika ada halangan yang menghalangiku, maka aku akan bertahalul di tempat terhalangnya aku.”
Isytirat ini bertujuan agar kita bisa keluar dari ihram tanpa harus membayar dam (denda) jika terjadi halangan serius yang mencegah kita menyelesaikan ibadah Umroh (misalnya sakit parah). Kalimat ini disunatkan diucapkan meskipun kecil kemungkinannya sekarang orang terhalang.
Dengan mengucapkan talbiyah di miqat, kita sudah masuk dalam keadaan berihram. Talbiyah ini terus diucapkan selama kurang lebih 5 jam perjalanan sampai kita tiba di Makkah.
Larangan-Larangan Ihram
Setelah memasuki ibadah ihram di miqat (setelah mengucapkan Labbaik Allahumma ‘Umratan), berlaku larangan-larangan ihram yang wajib kita hindari.
Beberapa larangan tersebut antara lain:
- Mencukur dan Memotong: Tidak boleh mencukur atau memotong rambut, baik rambut kepala maupun rambut atau bulu di seluruh badan (termasuk bulu ketiak dan bulu kemaluan). Tidak boleh memotong kuku.
- Parfum: Tidak boleh memakai parfum atau wangi-wangian, baik berupa minyak wangi murni maupun benda-benda yang mengandung aroma parfum, seperti sabun beraroma atau tisu basah yang diberi pewangi.
- Pakaian (Khusus Laki-laki): Dilarang memakai penutup kepala (seperti peci). Dilarang memakai pakaian (baju luar dan dalam, celana luar dan dalam). Dilarang memakai alas kaki yang menutupi mata kaki.
- Pakaian (Khusus Wanita): Dilarang memakai cadar (penutup wajah). Dilarang memakai sarung tangan.
- Aktivitas Lain: Dilarang berburu binatang darat.
- Dilarang melamar (untuk diri sendiri atau orang lain).
- Dilarang menikah atau menikahkan orang lain.
Seluruh larangan ini wajib kita hindari selama masih berada dalam keadaan berihram, sampai kita menyelesaikan ibadah Umroh dan melakukan tahalul.
Menyikapi Larangan Ihram
Meskipun larangan ihram terlihat banyak, kita tidak perlu terlalu khawatir, sebab dalam kondisi nyata di lapangan, larangan tersebut tidak memberatkan. Mayoritas larangan yang berkaitan dengan penampilan (memotong kuku, memangkas rambut atau bulu) akan selesai setelah kita berihram.
Hal yang perlu dijaga adalah larangan-larangan yang berkaitan dengan wangi-wangian:
- Penggunaan Sabun dan Tissue Berparfum: Ini adalah hal yang paling sering terabaikan. Saat di toilet atau kamar mandi, kita harus hati-hati tidak menggunakan sabun yang mengandung wewangian atau tissue basah berparfum.
- Menutup Kepala (Khusus Laki-laki): Larangan ini berlaku saat di bus, di hotel, atau saat tidur. Selimut hotel tidak boleh digunakan untuk menutup kepala, karena perbuatan tersebut sama dengan melanggar larangan menutup kepala.
Adapun berburu binatang darat, hal itu hampir mustahil terjadi karena kita berada di atas bus menuju Makkah. Membunuh nyamuk atau serangga kecil yang bukan termasuk binatang buruan darat tidak melanggar larangan ihram.
Strategi Kedatangan di Makkah dan Pelaksanaan Tawaf
Rangkaian ibadah berikutnya setelah sampai di Makkah adalah Tawaf dan Sa’i. Namun, program perjalanan kita direncanakan untuk tidak langsung melaksanakan Tawaf setibanya di Makkah. Kita akan beristirahat dan tidur dulu di hotel pada malam hari.
Strategi penundaan ini tidak melanggar syariat dan justru lebih baik secara teknis dan logistik, terutama untuk rombongan besar. Jika rombongan langsung Tawaf saat tiba:
- Proses pembagian kunci hotel, penataan koper, dan berkumpul kembali dapat memakan waktu 2 hingga 3 jam, menyebabkan jeda yang lama.
- Kondisi Tawaf tengah malam hingga menjelang Subuh cenderung padat, yang akan menyulitkan koordinasi rombongan besar.
Oleh karena itu, setibanya di hotel Makkah, setelah makan malam dan pembagian kunci, kita dianjurkan langsung beristirahat. Setelah salat Subuh di kamar atau musala hotel dan sarapan pagi, barulah kita berkumpul di lobi untuk melaksanakan Tawaf dan Sa’i bersama-sama.
Waktu Terbaik untuk Tawaf
Waktu yang kita pilih, yaitu setelah sarapan pagi (waktu Dhuha), merupakan waktu yang paling lempeng dan sepi di sekitar Ka’bah. Kondisi Ka’bah paling padat biasanya terjadi setelah shalat Magrib hingga pukul 22.00 dan sekitar tengah malam sampai Subuh. Memilih waktu Dhuha menjaga keutuhan rombongan dan kekhusyukan ibadah.
Selama beristirahat di hotel, status kita masih dalam keadaan ihram, sehingga larangan tetap berlaku:
- Menutup Kepala: Laki-laki dilarang menutup kepala, termasuk menggunakan selimut hotel untuk tujuan tersebut.
- Pakaian: Laki-laki dilarang mengganti pakaian ihram dengan pakaian berjahit biasa (seperti baju atau celana luar/dalam). Jika melepas kain ihram bagian atas untuk beristirahat di dalam kamar yang hanya ada keluarga mahram, hal itu diperbolehkan.
- Mandi: Diperbolehkan mandi, tetapi dilarang menggunakan sabun yang beraroma wangi.
- Hubungan Suami Istri: Ini adalah larangan paling keras, yang dapat membatalkan Umroh.
Teknis Pelaksanaan Tawaf
Tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Titik awal memulai tawaf adalah Hajar Aswad. Satu putaran dihitung apabila telah kembali lagi ke titik Hajar Aswad tersebut.
Jika memperhatikan struktur Ka’bah, bangunan ini memiliki empat sudut dan empat dinding. Pada tiga dinding pertama, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir. Sementara itu, pada satu dinding terakhir sebelum mencapai kembali Hajar Aswad, jamaah membaca doa sapu jagat.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Wahai Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka (QS. Al-Baqarah[2]: 201).
Teknis pelaksanaan tawaf dimulai dengan menyejajarkan posisi tubuh dengan Hajar Aswad di pojok Ka’bah. Sambil melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad, jamaah membaca Bismillahi Allahu akbar. Setelah posisi sejajar dan melambai, jamaah mulai bergerak sambil berdoa serta berdzikir di sepanjang tiga sudut dinding Ka’bah.
Ketika sampai pada pojok dinding yang terakhir sebelum Hajar Aswad, sudut tersebut dinamakan Rukun Yamani. Di sepanjang dinding antara Rukun Yamani hingga Hajar Aswad, jamaah membaca doa Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar. Satu putaran tawaf dianggap selesai setelah sampai kembali di hadapan Hajar Aswad. Jamaah kemudian melambaikan tangan lagi sambil mengucap Bismillahi Allahu akbar tanpa perlu menciumnya, lalu melanjutkan putaran berikutnya dengan pola yang sama hingga genap tujuh putaran.
Bagi laki-laki, saat melakukan tawaf, lengan kanan harus dalam keadaan terbuka (idhthiba). Selain itu, tawaf harus dilakukan dalam keadaan berwudhu layaknya shalat. Sebelum memulai tawaf, jamaah sebaiknya menuju toilet terlebih dahulu untuk membersihkan diri kemudian berwudhu agar kesuciannya terjaga. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلَاةِ إِلَّا أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ
“Tawaf mengelilingi Ka’bah itu seperti shalat, hanya saja kalian boleh berbicara di dalamnya (HR. Tirmidzi).
Konsekuensinya, wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan melakukan tawaf karena sedang tidak dalam keadaan suci. Saat tiba di miqat Bir Ali, wanita haid tetap mengucapkan niat Labaik allahumma umratan. Namun, ketika grup jamaah pergi melaksanakan tawaf, wanita tersebut harus tetap berada di kamar, tidak ikut serta, dan tetap menjaga larangan ihram. Ibadah tawaf dan Sai baru boleh dilaksanakan setelah masa haid selesai dan ia telah bersuci.
Perlu dipahami bahwa ibadah Sai hanya boleh dilakukan apabila tawaf telah selesai dilaksanakan secara sempurna. Seseorang tidak boleh mendahulukan Sai sebelum tawaf. Bagi wanita yang baru selesai haid, pelaksanaan tawaf dan Sai nantinya akan ditemani oleh mahram, pemimpin perjalanan (tour leader), atau mutawif.
Sebagai ringkasan, tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran yang dimulai dari Hajar Aswad dengan isyarat melambaikan tangan sambil mengucap Bismillahi Allahu akbar. Tiga dinding pertama diisi dengan doa dan dzikir bebas, kemudian dinding terakhir antara Rukun Yamani hingga Hajar Aswad diisi dengan doa Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.
Bacaan tawaf dari titik Hajar Aswad sampai Rukun Yamani dapat diisi dengan dzikir dan doa secara bebas. Anda diperbolehkan membaca doa apa saja, baik doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun doa-doa yang ada dalam hadits. Syarat utamanya adalah memahami arti doa tersebut. Berdoa merupakan aktivitas meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga tidak tepat apabila seseorang meminta sesuatu namun ia sendiri tidak memahami apa yang diucapkannya.
Jika tidak ada ayat atau hadits yang dihapal, berdoalah menggunakan bahasa yang dikuasai, seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Makassar, atau bahasa apa pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pencipta seluruh bahasa dan Dia Maha Mengerti segala bahasa. Hal yang terpenting adalah menghayati doa tersebut di dalam hati dan bersikap khusyuk.
Inilah kemudahan dalam agama Islam. Di beberapa buku manasik, sering ditemukan doa khusus untuk putaran pertama hingga ketujuh, baik dalam tawaf maupun Sai. Doa-doa yang sangat panjang tersebut tidak memiliki asal-usul dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melainkan karangan manusia. Meskipun maksud pembuatnya adalah menganjurkan doa, banyak orang yang keliru menganggap doa-doa tersebut sebagai bacaan wajib. Kenyataannya, jamaah bebas memanjatkan permintaan masing-masing sesuai dengan masalah dan keluhan yang dimiliki. Mintalah kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir[40]: 60).
Setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf, jamaah laki-laki kembali menutup lengan kanannya. Meskipun terdapat sunnah berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama bagi laki-laki, hal ini sulit dilakukan jika berada dalam rombongan besar yang menyertakan jamaah wanita. Jika jamaah laki-laki berlari kecil, dikhawatirkan jamaah wanita akan tertinggal dan rombongan terpisah. Para ulama menganjurkan agar laki-laki dalam perjalanan grup tidak perlu berlari kecil demi menjaga keutuhan rombongan.
Shalat sunnah setelah tawaf dan minum air zamzam
Setelah tawaf, jamaah disunnahkan melaksanakan shalat dua rakaat di belakang Makam Ibrahim. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah, bacalah surat Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah, bacalah surat Al-Ikhlas. Setelah shalat sunnah tawaf, jamaah dianjurkan minum air zamzam. Terdapat tiga sunnah dalam meminumnya: pertama, berdoa sebelum minum; kedua, meminum airnya; dan ketiga, membasahkan sebagian anggota tubuh seperti wajah, kepala, dan dada.
Sai antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah
Selesai melaksanakan tawaf dan shalat, jamaah menuju rukun berikutnya yaitu Sai antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Pelaksanaan Sai akan diarahkan ke Lantai 1 untuk menghindari kepadatan di lantai dasar sehingga rombongan tidak mudah terpecah. Saat menuju tempat Sai, jamaah harus fokus mengikuti arah rombongan agar tidak tertinggal, terutama saat menaiki eskalator.
Sesampainya di Bukit Shafa, jamaah disunnahkan membaca:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ. أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk sy’iar agama Allah. Aku memulai sa’i dengan apa yang didahulukan oleh Allah.”
Di atas Bukit Shafa, jamaah menghadap kiblat sambil menengadahkan tangan untuk berdzikir dan berdoa. Dzikir yang dibaca adalah:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Allah Maha Besar (3x), tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah semata, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya dan menghancurkan golongan musuh sendirian.” (HR. Muslim).
Urutannya adalah membaca dzikir tersebut, lalu berdoa masing-masing, kemudian dzikir kembali, berdoa kembali, dan ditutup dengan dzikir yang ketiga kalinya sebelum berjalan menuju Marwah. Saat menempuh jarak sekitar 100 meter yang ditandai dengan lampu hijau, jamaah laki-laki disunnahkan berlari kecil. Sepanjang perjalanan antara Shafa dan Marwah, jamaah dianjurkan membaca dzikir:
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ إِنَّكَ أَنْتَ الاَعَزُ الاَكْرَمُ
“Ya Rabbku, ampunilah (aku) dan berilah kasih sayang (kepadaku), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah.”
Selebihnya, jamaah bebas membaca doa atau dzikir apa saja. Setibanya di Bukit Marwah, lakukan hal yang sama seperti di Bukit Shafa. Proses ini diulang hingga tujuh kali dan berakhir di Bukit Marwah.
Tahallul
Rukun terakhir adalah memotong rambut (tahallul). Bagi laki-laki, terdapat dua pilihan: menggundul rambut sampai habis atau memangkas pendek seluruh bagian rambut, tidak boleh potong sedikit-sedikit saja. Mencukur gundul lebih utama karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan keberkahan bagi orang yang menggundul rambutnya sebanyak tiga kali, sedangkan bagi yang memangkas pendek hanya satu kali.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلِلْمُقَصِّرِينَ؟ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلِلْمُقَصِّرِينَ؟ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلِلْمُقَصِّرِينَ؟ قَالَ: وَلِلْمُقَصِّرِينَ
“‘Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul rambutnya.’ Para sahabat bertanya: ‘Dan bagi mereka yang memendekkan?’ Beliau menjawab: ‘Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul rambutnya.’ Para sahabat bertanya: ‘Dan bagi mereka yang memendekkan?’ Beliau menjawab: ‘Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul rambutnya.’ Para sahabat bertanya: Dan bagi mereka yang memendekkan? Beliau menjawab: ‘Dan bagi mereka yang memendekkan.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syariat Islam tidak mewajibkan jamaah laki-laki untuk mencukur gundul rambutnya saat tahallul, sehingga hal tersebut tidak bersifat wajib. Namun, sangat penting untuk memberikan motivasi sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh syariat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penekanan khusus melalui doa beliau yang memprioritaskan mereka yang mencukur gundul dibandingkan mereka yang hanya memotong pendek.
Terdapat perbandingan tiga doa rahmat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi yang menggundul rambut, berbanding satu doa bagi yang hanya memotong pendek. Mengingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri mencukur gundul rambut beliau, maka sangat dianjurkan bagi jamaah untuk memilih pilihan yang paling utama ini.
Meskipun harapan besar tertuju pada pilihan gundul, hal ini tetap tidak diwajibkan. Apabila terdapat alasan kuat yang menghalangi, seperti peraturan di tempat kerja yang melarang kepala gundul, maka hal tersebut dapat menjadi alasan yang dapat diterima. Sangat disayangkan jika alasan tidak mencukur gundul hanyalah karena takut kehilangan ketampanan. Ketampanan akan kembali seiring tumbuhnya rambut, namun kesempatan mendapatkan tiga kali doa khusus dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah keutamaan yang sangat berharga.
Bagi jamaah laki-laki yang menuju tempat pangkas rambut (barber shop), terdapat dua pilihan utama: mencukur gundul seluruhnya atau memangkas pendek seluruh bagian rambut kepala. Jamaah sebaiknya menghindari memotong rambut hanya sedikit-sedikit di beberapa bagian saja, karena hal tersebut tidak sesuai dengan tuntunan syariat dalam bertahallul.
Bagi wanita, memotong rambut harus dilakukan di dalam kamar hotel karena rambut merupakan aurat. Caranya adalah dengan mengumpulkan ujung rambut dan memotongnya minimal sepanjang satu ruas jari. Pemotongan dapat dilakukan sendiri atau dibantu oleh mahram atau teman sesama wanita. Dengan memotong rambut, maka selesailah ibadah umroh dan berakhir pula seluruh larangan ihram. Jamaah laki-laki diperbolehkan melepas pakaian ihram dan kembali mengenakan pakaian biasa.
Ditranskrip dari kajian manasik umroh wipatour:


COMMENTS