Pelajaran Tauhid dan Sunah Ketika Umrah

Daftar/Tanya-Tanya
Belajar Ittiba’ Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Selama Ibadah Umroh
Penyebab Semangat Ibadah Ketika di Tanah Suci
WIPA Mengutamakan Kenyamanan Jamaah

Secara praktis, selama ibadah Umrah, umat Muslim mengamalkan dan mengucapkan kalimat tauhid, yaitu ketika melantunkan Talbiyah. Berulang kali kita mengucapkan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pengulangan kalimat لَا شَرِيكَ لَكَ (Tiada sekutu bagi-Mu) adalah penekanan pada tauhid, yakni keyakinan bahwa ibadah ini, Umrah ini, ihram ini, hanyalah untuk Allah Tabaraka wa Ta’ala . Kita hanya mengharapkan ridha Allah, ampunan Allah, surga Allah, pahala, dan kemuliaan di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala . Ibadah ini bukan untuk tujuan duniawi, bukan untuk pujian, jabatan, atau hal-hal fana lainnya.

Penegasan tauhid ini juga diucapkan saat Sa’i antara Shafa dan Marwah. Di sana, kita mengulang-ulang kalimat:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya.” (HR. Muslim).

Kedua kalimat ini adalah kalimat tauhid yang menekankan bahwa ibadah hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selain penegasan tauhid, kita juga menerapkan ittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan untuk berlari kecil (raml) antara Shafa dan Marwah pada batas tertentu, umat Muslim pun melakukannya.

Dahulu, posisi berlari kecil ini berada di lembah landai (bukan lembah yang dalam), dan sekarang ditandai dengan lampu hijau. Di situlah posisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai berlari kecil, dan kita pun mengikutinya.

Intinya adalah kita berupaya keras menerapkan ibadah hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perjalanan ibadah umrah ini.

Dua hal ini—ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah (tauhid) dan ibadah yang benar-benar mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (ittiba’)—merupakan penyelamat manusia di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai syarat diterimanya amal:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang shalih dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahf [18]: 110).

Semoga Allah menguatkan kita untuk memegang erat tauhid dan sunnah ini sampai akhir hayat.

Ustadz Maududi Abdullah, Lc.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: