Belajar Ittiba’ Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Selama Ibadah Umroh

Daftar/Tanya-Tanya
Semangat Beribadah yang Harus Dipertahankan
Penyebab Semangat Ibadah Ketika di Tanah Suci
Kota yang Paling Dicintai Rasulullah ﷺ

Di Tanah Suci, umat Muslim dididik untuk bersikap ittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini terlihat jelas saat melaksanakan ibadah umrah. Hampir tidak ada seorang pun yang menolak untuk membuka pakaian biasa dan mengenakan kain ihram ketika diperintahkan berumrah di kota Makkah. Secara otomatis, setiap orang tunduk dan mengikuti syariat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Selama bertahun-tahun menjadi pembimbing ibadah, belum pernah ditemukan jemaah yang menolak mengenakan pakaian ihram. Semua jemaah patuh menggunakannya. Ini menunjukkan adanya ketaatan yang luar biasa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia ketika mendapatkan kesempatan datang ke kota Madinah dan Makkah. Manusia diberi kekuatan untuk senantiasa taat, runut, dan siap mengikuti setiap perintah yang diberikan.

Tidak ada protes tentang ketentuan pakaian ihram laki-laki yang harus pendek (di atas mata kaki). Semua manusia menjalankannya dengan nyaman. Demikian pula, para wanita tidak menolak ketika dianjurkan mengenakan jilbab panjang. Semua ketentuan itu dilaksanakan dengan ketenangan dan ketentraman di dalam hati.

Namun, sangat disayangkan ketika kembali ke Indonesia, sering muncul sikap yang berbeda. Terdapat penolakan ketika dianjurkan mengenakan jilbab besar dengan alasan gerah atau risih. Begitu pula ketika dianjurkan menaikkan celana (di atas mata kaki) sesuai sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, muncul alasan yang meremehkan. Hal-hal baik yang telah dijalani dengan nyaman di Tanah Suci sering kali ditinggalkan setelah kembali. Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala menjauhkan kita dari sikap demikian.

Ketaatan itu juga terlihat saat tawaf. Ketika diperintahkan untuk tawaf sebanyak tujuh putaran, semua orang mengikutinya tanpa memprotes jumlah putaran tersebut.

Kepatuhan ini semestinya dipertahankan. Seorang Muslim diperintahkan untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam segala aspek kehidupan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31).

Kepatuhan dalam ibadah haji dan umrah adalah pelaksanaan langsung dari perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah (pelajarilah) manasik haji dan umrah kalian dariku.” (HR. Muslim).

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla, Rabb semesta alam, mengaruniakan kepada kita keistiqamahan. Setelah mendapatkan pelajaran berharga tentang ittiba’ selama menunaikan ibadah Umrah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menetapkan hati Anda untuk meneladani sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di setiap langkah kehidupan sekembalinya ke tanah air.

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sikap imma’ah (ikut-ikutan) yang mudah terombang-ambing oleh keburukan lingkungan. Semoga Allah meneguhkan kita dalam bertauhid dan berpegang teguh pada tuntunan syariat, agar kita menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dan mendapatkan kebahagiaan dunia serta akhirat.

Ustadz Maududi Abdullah, Lc.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: