Pelajaran Umrah: Mendahulukan Akhirat di Atas Dunia

Daftar/Tanya-Tanya
Semangat Beribadah yang Harus Dipertahankan
Pelajaran Tauhid dan Sunah Ketika Umrah
Kota yang Paling Dicintai Rasulullah ﷺ

Dalam perjalanan ibadah umrah dan haji, umat Muslim secara praktis telah menjadi pribadi yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Hal ini terlihat dari fokus yang diberikan. Jika ada kekurangan dalam urusan dunia, kita tidak terlalu ambil pusing. Namun, jika ada kekurangan dalam urusan akhirat, kita berpacu untuk menutupinya.

Untuk urusan akhirat, kita memiliki target khusus, seperti shalat, tawaf, dan shalat Tahajud di masjid. Sementara untuk urusan dunia, seperti membeli kebutuhan, dilakukan sekadarnya, sering kali hanya sambil lewat tanpa target khusus.

Perubahan sikap ini juga terlihat dalam penampilan. Banyak yang bersikap santai terhadap pakaian yang dikenakan, bahkan ada yang tidak peduli jika pakaian mereka kusut atau tidak disetrika. Jika di Indonesia mungkin seseorang akan khawatir dengan ucapan orang lain mengenai penampilan, di Tanah Suci, kekhawatiran itu hilang.

Di sini, penampilan tidak dipedulikan. Kita tidak peduli orang mau berkata apa; yang terpenting adalah menunaikan shalat, tawaf, dan pergi ke masjid. Banyak yang bahkan pulang tawaf tanpa mengenakan sandal. Ketika ditanya tentang sandal yang hilang, jawabannya begitu santai. Bagi mereka, masalah sandal (dunia) tidak penting, yang penting ibadah tawaf (akhirat) telah selesai.

Sikap mendahulukan akhirat ini terjadi secara nyata. Sebagian jemaah, karena saking fokusnya pada ibadah, bahkan tidak ingat lagi tanggal atau hari saat ini. Ini adalah bukti bahwa fokus utama telah beralih sepenuhnya kepada akhirat.

Sikap tidak terlalu peduli pada omongan manusia inilah yang semestinya kita lanjutkan. Jangan sampai kita risih atau khawatir berlebihan terhadap penilaian orang lain tentang ketaatan dan ibadah kita, sebab itu termasuk urusan dunia.

Yang paling penting adalah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menilai, dan bagaimana kita taat kepada Rasul kita tercinta, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .

Jika ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak bertentangan dengan omongan manusia, silakan saja. Akan tetapi, jika ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya justru membuat manusia tidak suka, maka janganlah peduli dengan manusia. Senangnya manusia tidak akan menambah langkah kita menuju surga, dan tidak akan menghindarkan kita dari neraka.

Namun, jika Allah Tabaraka wa Ta’ala yang senang dan cinta kepada kita, pasti kita akan mendapatkan surga dan terhalang dari neraka.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai mendahulukan akhirat:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Padahal kamu mengutamakan kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la [87]: 16-17).

Semangat mendahulukan akhirat ini harus kita bawa pulang ke rumah dan ke tempat usaha kita. Yang terpenting adalah senantiasa taat kepada Allah, beribadah kepada-Nya, dan patuh kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jangan pedulikan apa kata manusia. Yang penting Allah dan Rasul-Nya ditaati dan diikuti. Kita bertauhid kepada Allah dan mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ustadz Maududi Abdullah, Lc.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: